Bursa Saham

Saham Terdepak dari MSCI Berpotensi Tertekan, Simak Analisis dan Rekomendasinya

47
×

Saham Terdepak dari MSCI Berpotensi Tertekan, Simak Analisis dan Rekomendasinya

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga saham di layar monitor bursa efek
Pasar modal Indonesia diprediksi mengalami tekanan jual akibat penyesuaian indeks MSCI.

JAKARTA – Pasar modal Indonesia diprediksi akan mengalami tekanan jual selektif menjelang penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026. Hal ini dipicu oleh penyesuaian portofolio dana pasif terkait rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Estimasi arus dana keluar atau passive outflow dari pasar saham domestik diperkirakan mencapai US$753 juta. Dana tersebut terdiri dari US$684 juta untuk kategori Standard Cap dan US$68 juta untuk kategori Small Cap.

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diperkirakan menjadi emiten dengan tekanan arus dana keluar terbesar, yakni mencapai US$407 juta. Sementara itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berpotensi menghadapi tekanan keluar sebesar US$177 juta dari kategori Standard Cap.

Meskipun CPIN diperkirakan menerima arus dana masuk sekitar US$50 juta setelah berpindah ke kategori Small Cap, total arus keluar bersih tetap berada di kisaran US$127 juta. Analis menilai tekanan jual ini akan mencapai puncaknya pada sesi penutupan perdagangan akhir bulan ini.

Selain GOTO dan CPIN, sejumlah saham lain yang dikeluarkan dari indeks MSCI turut menjadi sorotan. Daftar tersebut mencakup PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).

Tekanan terhadap harga saham-saham tersebut diprediksi cukup signifikan, terutama bagi emiten dengan likuiditas perdagangan yang terbatas. Jika nilai estimasi dana keluar jauh melampaui rata-rata nilai transaksi harian, volatilitas harga cenderung akan meningkat.

Kendati demikian, aksi jual tidak sepenuhnya terjadi secara mendadak pada 31 Agustus. Sebagian manajer investasi dan pelaku strategi arbitrase indeks diketahui telah menyesuaikan posisi sejak hasil evaluasi diumumkan pada 13 Agustus 2026.

Di sisi lain, rebalancing ini juga memicu rotasi dana masuk ke sejumlah emiten besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) berpotensi menerima aliran dana pasif tambahan.

Analis menegaskan bahwa tekanan yang terjadi di pasar bersifat selektif dan tidak mencerminkan aksi jual menyeluruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah efek teknikal rebalancing mereda, pergerakan harga akan kembali ditentukan oleh fundamental perusahaan.

Secara fundamental, emiten yang terdampak menunjukkan kinerja yang variatif. GOTO tercatat mulai memperbaiki kinerja dengan mencetak laba bersih Rp607 miliar pada semester I-2026.

Sementara itu, CPIN dinilai memiliki kinerja paling kuat di antara saham yang terdampak. Laba bersih CPIN melonjak 95% secara tahunan menjadi Rp3,7 triliun pada semester pertama tahun ini, sehingga disarankan untuk trading buy dengan target harga Rp3.150 per saham.