Energi

Pemerintah Bangun 14 PLTS, Hemat APBN Rp 4,6 Triliun Tiap Tahun

33
×

Pemerintah Bangun 14 PLTS, Hemat APBN Rp 4,6 Triliun Tiap Tahun

Sebarkan artikel ini
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat meresmikan dimulainya pembangunan 14 proyek PLTS di Jembrana.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meresmikan dimulainya pembangunan 14 proyek PLTS dengan kapasitas 5,3 GWp di Jembrana.

JEMBRANA – Pemerintah resmi memulai pembangunan 14 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 5,3 gigawatt peak (GWp). Langkah strategis ini menjadi tonggak awal dari Program PLTS 100 GWp yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, proyek tersebut menyerap investasi sebesar US$ 7,7 miliar atau sekitar Rp 135 triliun. Pembangunan infrastruktur energi hijau ini diproyeksikan mampu menghemat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp 4,6 triliun per tahun.

Seremoni peluncuran dan peletakan batu pertama (groundbreaking) berlangsung di Monumen Operasi Gilimanuk, Jembrana, Bali, pada Selasa (25/8). Acara tersebut terhubung secara daring dengan beberapa titik proyek strategis lainnya di Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat transisi energi nasional. Pemerintah menargetkan eliminasi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) pada pembangkit listrik melalui optimalisasi energi surya.

Sebanyak enam proyek dari rangkaian ini kini berada dalam tahap siap tender dengan total kapasitas 4.548,92 MWp. Proyek skala besar tersebut mencakup PLTS Terapung Jatiluhur (1.688 MWp), PLTS Terapung Cirata (1.250 MWp), dan PLTS Terapung Jatigede (636 MWp).

Selain itu, terdapat proyek PLTS+BESS Klaster Madura berkapasitas 605 MWp yang difokuskan untuk mendukung eliminasi penggunaan BBM di wilayah Madura. Proyek lainnya meliputi PLTS Bali sebesar 300 MWp di Gilimanuk serta PLTS Lahan Bank Tanah Purwakarta berkapasitas 69 MWp.

Pemerintah juga telah memasuki tahap groundbreaking untuk tiga proyek lainnya. Proyek tersebut terdiri dari PLTS Banyuwangi (130,2 MWp), PLTS Pasuruan (132 MWp), dan PLTS Terapung Gajah Mungkur di Wonogiri (134,2 MWp).

Di sisi lain, tiga proyek saat ini sedang dalam fase konstruksi aktif. PLTS Tembesi mencatatkan progres konstruksi sebesar 65%, disusul PLTS Terapung Karangkates sebesar 56,54%, dan PLTS Terapung Saguling sebesar 44,4%.

Dua proyek terakhir dalam rangkaian ini telah memasuki tahap peresmian. Keduanya adalah PLTS Pulau Sembur di Kepulauan Riau dengan kapasitas 0,92 MWp dan PLTS Pulau Rengit di Bangka Belitung berkapasitas 0,078 MWp.

Dalam mempercepat pembangunan PLTS skala besar ini, PT PLN (Persero) berencana mengadopsi standar operasional dari sejumlah negara. Amerika Serikat dan Arab Saudi menjadi referensi utama dalam pengembangan teknologi dan efisiensi proyek.

Langkah ini sejalan dengan agenda nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk tahun 2027. Program kerja prioritas nasional direncanakan akan menyerap anggaran signifikan untuk memperkuat infrastruktur strategis di berbagai sektor.

Pengembangan PLTS ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan energi nasional secara berkelanjutan. Selain efisiensi anggaran, proyek ini ditargetkan mampu menekan emisi karbon sesuai dengan komitmen transisi energi global.